Vitiligo

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Vitiligo adalah masalah kulit yang membuat sebagian permukaan kulit berubah warna dan menjadikannya terlihat pucat karena kehilangan melanin. Pada sebagian kasus, disebabkan oleh fungsi melanin yang terhenti sepenuhnya.

Melanin sendiri merupakan sel kulit yang memengaruhi warna kulit manusia. Vitiligo bisa muncul di seluruh bagian tubuh, termasuk di wajah, di rambut, atau di dalam rongga mulut. Kondisi ini lebih berpotensi terjadi pada orang-orang yang berkulit gelap.

Pada umumnya, perkembangannya terjadi secara perlahan-lahan dalam rentang waktu tertentu. Awalnya perubahan warna pada kulit terlihat cukup kecil, namun lama-kelamaan perubahan warna kulit bisa meluas dan terjadi secara tidak teratur. Semua orang pada segala usia bisa mengalaminya, namun lebih sering terjadi sebelum seseorang berusia 20 tahun.

Jenis-jenis Vitiligo

Meskipun bisa terjadi di seluruh bagian tubuh, vitiligo paling sering ditemukan di sekitar bagian atas mata, leher, ketiak, siku, organ kelamin atau selangkangan, tangan, mulut, dan hidung. Lebih khusus lagi terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Vitiligo non-segmental. Jenis ini umumnya muncul di kedua sisi tubuh penderitanya secara simetris. Kondisi ini umumnya muncul di bagian belakang tangan, di kedua kaki, lutut, siku, di sekitar mata, serta di lengan. Non-segmental adalah kasus yang paling sering terjadi.
  • Vitiligo segmental. Berbeda dengan non-segmental yang muncul secara simetris, jenis ini hanya muncul di salah satu bagian tubuh dan termasuk lebih jarang ditemukan. Sekitar 30 persen ditemukan pada anak-anak.

Apa Saja Gejala-gejala Vitiligo?

Vitiligo umumnya tidak berbahaya, namun kondisi ini sering menyebabkan penderitanya mengalami stres karena malu atau kehilangan rasa percaya diri. Kemunculannya biasa ditandai dengan perubahan sebagian warna kulit menjadi pucat.

Lama-kelamaan, area warna kulit yang terjangkit akan berubah total menjadi putih. Jika area yang terjangkit berada di atas pembuluh darah, maka akan terlihat berwarna merah muda. Selain berubah menjadi putih, muncul rasa gatal yang seiring waktu akan bertambah parah.

Namun, gejala yang dirasakan tiap penderita tidak selalu sama. Sebagian orang hanya mengalami vitiligo berukuran kecil dan sebagian lainnya berukuran lebih besar. Pertumbuhannya pun tidak bisa diprediksi karena perkembangannya sangat lambat.

Apa Penyebab Terjadinya Vitiligo?

Penyebab vitiligo yang terutama adalah defisiensi melanin. Pada kasus tertentu, melanin hilang karena sel pembentuk pigmen bernama melanosit mengalami kerusakan. Selain itu, penyebab lainnya adalah:

  • Faktor keturunan dan beberapa faktor eksternal, seperti radiasi dari paparan sinar matahari secara berlebihan, stres yang tidak ditangani, dan terpapar zat kimia.
  • Terdampak oleh gangguan kekebalan tubuh atau penyakit autoimun. Dalam hal ini, imunitas seseorang tidak bekerja dengan baik. Alih-alih menyerang virus, bakteri, atau zat asing lainnya, imunitas justru menyerang sel-sel yang sebenarnya sehat.
  • Pernah mengalami kanker kulit melanoma atau limfoma.
  • Memiliki anggota keluarga dengan riwayat vitiligo.
  • Memiliki anggota keluarga yang pernah berpenyakit autoimun, seperti anemia pernisiosa, hipertiroidisme, atau penyakit autoimun lainnya.

Bagaimana Cara Menangani Vitiligo?

Pada dasarnya, penyakit kulit ini tidak bisa disembuhkan. Penanganan medis ditujukan memperlambat perkembangannya atau mengembalikan warna kulit yang kehilangan melanin. Prosedur penanganan dilakukan oleh dokter kulit atau ahli estetika. Di bawah ini adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan.

  • Mengonsumsi obat-obatan

Sejauh ini belum ada obat-obatan khusus yang bisa menghentikan penyebaran vitiligo. Obat-obatan yang disediakan dokter lebih bertujuan mengembalikan warna kulit yang memudar.

Ada dua jenis obat yang sering digunakan untuk menghambatnya, yaitu obat krim untuk mengendalikan peradangan dan obat oral untuk mengontrol sistem kekebalan tubuh.

Krim pengontrol peradangan yang mengandung kortikosteroid bisa membantu mengembalikan warna kulit yang hilang. Prosedur ini cukup efektif, namun memakan waktu yang cukup lama. Sementara itu, obat pengontrol sistem kekebalan tubuh yang digunakan umumnya mengandung tacrolimus atau pimecrolimus.

  • Kombinasi terapi cahaya dan psoralen

Mengombinasikan zat bernama psoralen yang bisa dikonsumsi secara oral maupun dioleskan ke bagian yang bermasalah. Setelah itu, bagian kulit yang bermasalah diberi sinar ultraviolet A dan ultraviolet B. Pengobatan ini harus dilakukan secara berulang selama 6-12 bulan.

  • Depigmentasi

Prosedur ini bisa menjadi pilihan jika vitiligo meluas dan pengobatan lainnya tidak berfungsi. Prosedur ini dilakukan dengan mencerahkan area kulit yang tidak bermasalah. Dengan begitu, tampilannya menjadi samar.

Terapi ini umumnya dilakukan 1-2 kali per hari selama lebih dari sembilan bulan. Risiko efek samping berupa pembengkakan di area kulit yang ditangani, gatal, dan kulit menjadi lebih sensitif.

  • Operasi

Operasi menjadi pilihan pengobatan terakhir jika penggunaan obat-obatan dan terapi tidak memberikan perbaikan. Tujuannya sama, yaitu mengembalikan warna kulit yang hilang. Hanya saja, dokter akan lebih banyak melakukan implantasi pigmen kulit pada area yang bermasalah.

Tiga pilihan operasi yang dokter rekomendasikan adalah pencangkokan kulit, blister grafting, mikropigmentasi.

Pencangkokan kulit, dilakukan dengan mengambil sebagian pigmen kulit yang normal dan menanamkannya di area yang terjangkit.

Blister grafting, dokter akan mengambil lapisan kulit terluar yang sehat, lalu menempelnya di atas permukaan kulit yang bermasalah.

Mikropigmentasi, dilakukan menggunakan jarum berukuran mikro yang steril untuk menanamkan pigmen kulit yang sehat di area yang bermasalah.

Sebaiknya jangan biarkan vitiligo berkembang tanpa pengobatan karena masalah kulit ini bisa berisiko memicu komplikasi medis, seperti peradangan pada iris mata dan kehilangan pendengaran sebagian.

Vitiligo yang meluas juga dikhawatirkan bisa berdampak kepada kondisi psikologis sebagaimana warna putih pada kulit akan mengganggu kepercayaan diri.

Share.

About Author

Tulis Komentar

%d bloggers like this: